3/16/2016

KESALAHAN

Mungkin jika dulu aku tidak bertemu dengannya, aku tidak sesulit ini untuk melupakannya. Ini memang kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi, namun sifat manusia yang tidak bisa hilang adalah 'berbuat salah'.

2/02/2016

ANOTHER GUY

Sebenarnya ada sosok lain yang sudah aku kagumi sejak kelas 2 SMA, seseorang yang memiliki mata indah, dan penuh kharisma. And yap, he's my first love in the high school and complete me. Lelaki ini menarikku untuk selalu dekat dengannya. Perbedaan yang membuat kami tidak mungkin bersatu, aku sangat dekat dengannya dulu, tetapi ku harap ia tidak akan pernah mengetahui perasaanku padanya hingga saat ini. Kini ia telah bahagia, dan aku pun merasakan kebahagiaannya. Walau bukan seperti yang terlihat. Semenjak lulus sekolah, aku sudah jarang bertemu dengannya, hanya sekali setahun. Lucunya, sampai saat ini senyumnya tidak pernah hilang dari bayangan. Kini ia berkuliah di salah satu universitas negeri di Riau. Jurusan yang ditentukan oleh orangtuanya, lalu ia menjalankannya dengan bahagia karena orang yang ia cintai satu jurusan juga dengannya. Aku juga sempat menghabiskan waktuku di salah satu universitas negeri di Riau, yang pada akhirnya aku meninggalkan kampusku, lalu aku memutuskan untuk pindah ke daerah lain.

Sebelum pindah aku dan sosok bermata indah ini pernah bertemu lagi, tetapi bukan hanya aku dan dia juga ada teman-temanku yang lainnya. "Dia memang tidak pernah berubah, mata itu selalu tulus memandang, mata itu meluluhkanku." gumamku dalam hati.

"Hoi lagi ngelamun ya?" tanya Zen.

"Nggak lah Zen." jawabku seadanya pada salah satu temanku itu.

"Kita makan apa bro?" sambungku bertanya.

"Kalau makan bakso gimana? Udah lama nggak nih." jawab si Dexma.

"Boleh juga tuh." respon Zen, Axel, Mike, dan Mr. Mata Indah (another guy).

"Oke kita ke sana sekarang." jawabku.

***
Setelah memesan makanan, kami menunggu sambil menikmati sebuah lagu lama dengan lirik :

Can you hear me out there
Have you ever had someone who loved you
Never leave your side
I know you'll be here
Because you love me... yes you do

I'm givin all my life and all my love... if you...
Promise that you'll be here forever
I'll give you all of me I'll give you everything
If you promise you'll never leave me

What my friends say don't matter
You'll be right here from the start
And I'll get on my knees
I'll give you all of me
If you never leave my side
Because

You love me
You complete me
You hold my heart in your hands
And it's okay cause I trust that
You'll be the best man that you can~

Tak lama pesanan kami datang. Setelah selesai makan, ada seorang pengamen yang menyanyikan lagu kesukan Zen dan Dexma. Mereka pun bernyanyi bersama, dan kami hanya menjadi pendengar yang baik. Aku sangat menikmati hariku sore itu, terlebih karena dia bersamaku.Walau hanya sebagai teman.
***

2/01/2016

DIA



Dibalik cerita Extase yang rumit, aku menerima sebuah hati dari teman yang sudah ku kenal sejak kelas 2 SMA dan kami kembali sekelas di kelas 3. Lelaki ini bukan sosok yang sempurna. Ia memang memiliki tubuh yang tinggi namun kurang tegap, kulitnya putih (karena ia nggak suka panas-panasan), dan yang menarik dari lelaki ini, ia pemain catur hebat yang pernah ku kenal (tentunya lelaki ini pintar hanya saja kepercayaan dirinya kurang), ia juga jago dalam bidang sastra(menulis berbagai artikel, cerpen, puisi ataupun yang lainnya). Ia lebih akrab disapa dengan Sonny, dan lelaki ini berdarah minang. Ketika kelas 2 SMA, aku memang berteman dengannya, tetapi kami tidak pernah akur, selalu cekcok mulut. Hal sekecil apapun pasti menjadi bahan untuk berdebat bagi kami, aku pernah berpikir kalau aku tidak akan cocok dengan orang sepertinya. Aku berharap hubungan kami hanya sebagai teman dan tidak lebih dari itu. Takkan pernah menang jika harus berdebat dengannya, karena ia termasuk pembicara yang hebat. 
Tetapi kami mulai akrab dikelas 3, dan sering berdiskusi tentang suatu hal, ia pun tidak seperti dulu, kini ia lebih halus dalam bertutur kata. "Mungkin ia sudah berubah" pikirku dalam hati. Tepat pada Hari Pahlawan tahun 2012, ia menyatakan cinta padaku disebuah tempat makan (kalau kata anak-anak sekarang "ditembak"). "Aku malah kemakan kata-kataku yang dulu saat aku benci sekali dengannya." dalam lamunanku. Tetapi kini situasi berkata lain, aku pun menerimanya dan kami baik-baik saja sampai suatu masalah muncul yang ia sebabkan. Kami berdua seperti api vs api, keegoisan kami menghancurkan hubungan yang hanya berjangka 2 bulan. Hubungan kami berakhir ketika kami pulang liburan dari Bali, setelah Tahun Baru 2013.
Kalau memang bukan jodoh nggak mungkin bisa dipaksakan. Beberapa waktu setelah putus, aku dan dia tetap berteman. Ia pun juga pernah mengenalkan temannya padaku, calon arsitektur handal dan sesama suka menulis juga aktif sebagai blogger, Firmansyah namanya. Aku masih berteman baik dengan Firmansyah, walau kami hanya pernah bertemu sekali saja di Airport Soekarno-Hatta. Firmansyah memang jago dalam mendesain, aku pernah melihat salah satu karyanya. Sonny pun juga masih aktif di blognya, masih aktif menulis dan menuangkan segala kreativitasnya. Hingga kini karyanya yang masih ku ingat berjudul 'Sajak Hati', puisi ini singkat tapi bermakna. Masih banyak lagi karya indahnya, dengan kata-kata yang penuh makna.


KITA

Senza Felnea sosok yang berbeda dengan temanku yang lain. Aku percaya dialah yang akan bisa menjadi sahabatku. Aku berkenalan dengannya dengan cara yang berbeda. Bukan dengan mengulurkan tangan lalu menyebutkan nama seperti biasanya. Aku masih ingat saat, salah satu teman dekatku bernama Redzma mengatakan padaku, jika Senza itu menerima orderan gelang dengan bermacam simbol lucu. Redzma mengajakku untuk menghampiri Senza ke meja nya, untuk mengorder gelang yang sama dengan warna yang berbeda. Sejak saat itu aku mengenal Senza, dan ternyata baginya, sosok aku bukan pertama kali ia ketahui, namaku sudah tak asing lagi baginya sejak kelas 1 SMA.
Kami memiliki satu kelompok yang terdiri sepuluh orang, dibentuk karena sebuah kerja kelompok pelajaran kimia. Kelompok ini dinamakan Extase oleh ketua kelompok yang bernama Karinia, mengapa Extase? Karena pada masa itu, sedang ada geng motor yang bernama XTC, lalu diplesetkan oleh Karin, menjadi Extase. Namun, teman teman sekelas, memplesetkan lagi kata Extase itu menjadi Etalase. 
Sejak dibentuknya Extase atau Etalase itu, kami semakin dekat. Kami selalu berkumpul dirumahku. Tentunya Senza juga ada di dalam kelompok itu. Sepuluh orang itu, terdiri dari Karinia, Redzma, Senza, Sefy, Nefta, Angel, Nivia, Yela, Treya, dan aku. Sepulang sekolah kami berkumpul di rumahku, untuk mengerjakan tugas kelompok. Namun Extase ini tidak berjalan lama, karena timbul envy di antara satu dengan yang lainnya. Kedekatan menciptakan kerenggangan. Lalu kami hanya berteman biasa saja tidak sedekat dulu lagi. Aku dan Redzma juga tidak sedekat biasanya. Sefy lebih sering bersamaku, tetapi aku kecewa dengannya yang kurang jujur, dan aku tidak bisa percaya dengannya lagi. Maka aku memutuskan tidak berteman dengannya. Aku, Senza dan Nefta selalu bercerita, dan menghabiskan waktu bersama. Awalnya kita merasa cocok menjadi sahabat, bertiga selamanya. Tetapi pada akhirnya, envy menghancurkan segalanya, Nefta tidak suka jika Senza menjadi temanku, dan Nefta mengirimku pesan yang bertubi-tubi agar aku menjauhi Senja. Tetapi Aku tetap menjadi teman Senza, tak gentar walau Nefta tidak suka dengan hal tersebut. Aku bersahabat dengan Senza, dan kita sudah seperti saudara. Aku menjauhi Nefta, dan Senza menyetujuinya. Senza menjadi seseorang yang mengerti kehidupanku terlebih ketika saat saat tersulit bagiku saat itu. 
Tiba saat hari kelulusan, aku pergi bersama Senza ke sekolah untuk mengetahui pengumuman secara langsung. Sudah ramai kerumunan seragam putih abu-abu di sana. Halaman sekolah dipenuhi sorakan gembira karena semua anak-anak tahun itu lulus 100%. Teman temanku yang lain mulai menanda tangani baju ku, dan seluruh sisi di bajuku itu dipenuhi berbagai macam bentuk tanda tangan. Mereka pun meminta aku menanda tangani baju mereka sebagai 'kenang-kenangan' yang tidak akan terulang kedua kalinya. 
Berbeda dengan Senza, ia tidak ingin bajunya dicoret atau ditanda tangani oleh siapapun. Mamanya tidak menyukai hal tersebut. Lalu aku memberi sebuah spidol warna gold dan menyuruh Senza untuk menanda tangani bajuku. Tiba-tiba ia pun menyuruhku untuk menanda tangani bajunya, di sebalik kerah baju bagian samping. Kemudian ia berkata, "kalau sahabat sih nggak apa-apa ngotorin baju aku hahahahaha" sambil tertawa lepas. Lalu aku mengantarnya pulang,  dan tanpa mampir lagi ke rumahnya, aku langsung pulang menuju rumahku yang berjarak waktu 20 menit dari rumahnya itu.


AKU

Aku memiliki teman teman yang membuatku nyaman. Aku tidak memiliki banyak teman dekat, tetapi sebagian mereka yang dekat denganku membuatku bahagia. Aku diberi nama oleh orangtuaku Xata Delcansa Harya. Aku anak tunggal kini, sebelumnya aku memiliki seorang kakak yang menyayangiku dan telah pergi jauh meninggalkan dunia fana ini.
Sehari-hari aku dipanggil Exa, dan aku terbiasa dengan panggilan itu. Kini aku sudah berada di kelas 3 SMA, di jurusan yang aku minati, IPA. Aku berkenalan dengan sebagian orang yang baru namun tak asing bagiku, karena sebelumnya aku pernah melihat mereka tanpa mengetahui namanya. Lalu sekarang aku sudah tahu apa yang tidak ku ketahui, mungkin aku tergolong orang yang cuek dengan orang baru, tetapi aku tidak menutup diri dari orang baru. Yang mengenalku akan memahamiku, yang tidak mengenalku maka akan berkata tentangku 'sombong, apatis, cuek, dan masih banyak lagi'. Aku akan dekat dengan seseorang jika sudah lama mengenal, karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda beda. Sekolah ku ini adalah salah satu sekolah negeri yang cukup baik di kota ku. Kota kelahiran ku ini, menjadi saksi tempatku tumbuh, berkembang, dan beraktivitas (kata yang sangat umum di dengar). Aku berdomisili di sebuah pulau yang bukan Jakarta, dan bukan pula pelosok. Kampung halamanku terkenal dengan perkebunan sawit yang luas, dan menghasilkan minyak mentah. Aku menghabiskan masa remajaku di Riau, ya tetapi di ibukotanya. Tak penting membahas kota ku, aku memiliki cerita yang lebih penting lagi dari keistimewaan kota ku ini. Tentang hidupku yang seperti rubik, terlihat mudah namun tak seperti yang dilihat, banyak hal yang terjadi dan harus ku lalui. Mungkin bukan aku saja yang mengalami. Ya, karena setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing. Ceritaku dimulai sejak aku berkenalan dengan teman baru ku, namanya Senza Felnea