Senza Felnea sosok yang berbeda dengan temanku yang lain. Aku percaya dialah yang akan bisa menjadi sahabatku. Aku berkenalan dengannya dengan cara yang berbeda. Bukan dengan mengulurkan tangan lalu menyebutkan nama seperti biasanya. Aku masih ingat saat, salah satu teman dekatku bernama Redzma mengatakan padaku, jika Senza itu menerima orderan gelang dengan bermacam simbol lucu. Redzma mengajakku untuk menghampiri Senza ke meja nya, untuk mengorder gelang yang sama dengan warna yang berbeda. Sejak saat itu aku mengenal Senza, dan ternyata baginya, sosok aku bukan pertama kali ia ketahui, namaku sudah tak asing lagi baginya sejak kelas 1 SMA.
Kami memiliki satu kelompok yang terdiri sepuluh orang, dibentuk karena sebuah kerja kelompok pelajaran kimia. Kelompok ini dinamakan Extase oleh ketua kelompok yang bernama Karinia, mengapa Extase? Karena pada masa itu, sedang ada geng motor yang bernama XTC, lalu diplesetkan oleh Karin, menjadi Extase. Namun, teman teman sekelas, memplesetkan lagi kata Extase itu menjadi Etalase.
Sejak dibentuknya Extase atau Etalase itu, kami semakin dekat. Kami selalu berkumpul dirumahku. Tentunya Senza juga ada di dalam kelompok itu. Sepuluh orang itu, terdiri dari Karinia, Redzma, Senza, Sefy, Nefta, Angel, Nivia, Yela, Treya, dan aku. Sepulang sekolah kami berkumpul di rumahku, untuk mengerjakan tugas kelompok. Namun Extase ini tidak berjalan lama, karena timbul envy di antara satu dengan yang lainnya. Kedekatan menciptakan kerenggangan. Lalu kami hanya berteman biasa saja tidak sedekat dulu lagi. Aku dan Redzma juga tidak sedekat biasanya. Sefy lebih sering bersamaku, tetapi aku kecewa dengannya yang kurang jujur, dan aku tidak bisa percaya dengannya lagi. Maka aku memutuskan tidak berteman dengannya. Aku, Senza dan Nefta selalu bercerita, dan menghabiskan waktu bersama. Awalnya kita merasa cocok menjadi sahabat, bertiga selamanya. Tetapi pada akhirnya, envy menghancurkan segalanya, Nefta tidak suka jika Senza menjadi temanku, dan Nefta mengirimku pesan yang bertubi-tubi agar aku menjauhi Senja. Tetapi Aku tetap menjadi teman Senza, tak gentar walau Nefta tidak suka dengan hal tersebut. Aku bersahabat dengan Senza, dan kita sudah seperti saudara. Aku menjauhi Nefta, dan Senza menyetujuinya. Senza menjadi seseorang yang mengerti kehidupanku terlebih ketika saat saat tersulit bagiku saat itu.
Tiba saat hari kelulusan, aku pergi bersama Senza ke sekolah untuk mengetahui pengumuman secara langsung. Sudah ramai kerumunan seragam putih abu-abu di sana. Halaman sekolah dipenuhi sorakan gembira karena semua anak-anak tahun itu lulus 100%. Teman temanku yang lain mulai menanda tangani baju ku, dan seluruh sisi di bajuku itu dipenuhi berbagai macam bentuk tanda tangan. Mereka pun meminta aku menanda tangani baju mereka sebagai 'kenang-kenangan' yang tidak akan terulang kedua kalinya.
Berbeda dengan Senza, ia tidak ingin bajunya dicoret atau ditanda tangani oleh siapapun. Mamanya tidak menyukai hal tersebut. Lalu aku memberi sebuah spidol warna gold dan menyuruh Senza untuk menanda tangani bajuku. Tiba-tiba ia pun menyuruhku untuk menanda tangani bajunya, di sebalik kerah baju bagian samping. Kemudian ia berkata, "kalau sahabat sih nggak apa-apa ngotorin baju aku hahahahaha" sambil tertawa lepas. Lalu aku mengantarnya pulang, dan tanpa mampir lagi ke rumahnya, aku langsung pulang menuju rumahku yang berjarak waktu 20 menit dari rumahnya itu.
0 comments:
Posting Komentar