2/01/2016

DIA



Dibalik cerita Extase yang rumit, aku menerima sebuah hati dari teman yang sudah ku kenal sejak kelas 2 SMA dan kami kembali sekelas di kelas 3. Lelaki ini bukan sosok yang sempurna. Ia memang memiliki tubuh yang tinggi namun kurang tegap, kulitnya putih (karena ia nggak suka panas-panasan), dan yang menarik dari lelaki ini, ia pemain catur hebat yang pernah ku kenal (tentunya lelaki ini pintar hanya saja kepercayaan dirinya kurang), ia juga jago dalam bidang sastra(menulis berbagai artikel, cerpen, puisi ataupun yang lainnya). Ia lebih akrab disapa dengan Sonny, dan lelaki ini berdarah minang. Ketika kelas 2 SMA, aku memang berteman dengannya, tetapi kami tidak pernah akur, selalu cekcok mulut. Hal sekecil apapun pasti menjadi bahan untuk berdebat bagi kami, aku pernah berpikir kalau aku tidak akan cocok dengan orang sepertinya. Aku berharap hubungan kami hanya sebagai teman dan tidak lebih dari itu. Takkan pernah menang jika harus berdebat dengannya, karena ia termasuk pembicara yang hebat. 
Tetapi kami mulai akrab dikelas 3, dan sering berdiskusi tentang suatu hal, ia pun tidak seperti dulu, kini ia lebih halus dalam bertutur kata. "Mungkin ia sudah berubah" pikirku dalam hati. Tepat pada Hari Pahlawan tahun 2012, ia menyatakan cinta padaku disebuah tempat makan (kalau kata anak-anak sekarang "ditembak"). "Aku malah kemakan kata-kataku yang dulu saat aku benci sekali dengannya." dalam lamunanku. Tetapi kini situasi berkata lain, aku pun menerimanya dan kami baik-baik saja sampai suatu masalah muncul yang ia sebabkan. Kami berdua seperti api vs api, keegoisan kami menghancurkan hubungan yang hanya berjangka 2 bulan. Hubungan kami berakhir ketika kami pulang liburan dari Bali, setelah Tahun Baru 2013.
Kalau memang bukan jodoh nggak mungkin bisa dipaksakan. Beberapa waktu setelah putus, aku dan dia tetap berteman. Ia pun juga pernah mengenalkan temannya padaku, calon arsitektur handal dan sesama suka menulis juga aktif sebagai blogger, Firmansyah namanya. Aku masih berteman baik dengan Firmansyah, walau kami hanya pernah bertemu sekali saja di Airport Soekarno-Hatta. Firmansyah memang jago dalam mendesain, aku pernah melihat salah satu karyanya. Sonny pun juga masih aktif di blognya, masih aktif menulis dan menuangkan segala kreativitasnya. Hingga kini karyanya yang masih ku ingat berjudul 'Sajak Hati', puisi ini singkat tapi bermakna. Masih banyak lagi karya indahnya, dengan kata-kata yang penuh makna.


0 comments:

Posting Komentar